JAKARTA, PapuaStar.com-Pembentukan Indonesia sebagai Dana Kekayaan Sovereign (SWF) dari strategi nasional mengukur pemerintah dalam memperkuat Fitasi yang ditandai dengan nasional yang semakin kompleks global dinamika. Di era ketidakpastian ekonomi dunia, negara ini tidak cukup hanya untuk mengandalkan kebijakan fiskal dan moneter konvensional.
Diperlukan instrumen investasi yang kuat, profesional, profesional, dan jangka panjang untuk memastikan bahwa kekayaan nasional dapat dikelola secara optimal. Menahan untuk menjadi jawaban untuk pemecahan, serta simbol transformasi baru dalam mengelola aset dan investasi strategis Indonesia.
CEO dan Indonesia, Rosan Roeslani, menunjukkan bahwa dan pemerintah dibentuk sebagai lengan investasi strategis negara dengan peran yang lebih luas dibandingkan dengan manajer dana. Dan jangan hanya mengatur investasi Portopholio, tetapi juga beroperasi secara aktif, baik di dalam negeri maupun di tingkat global.
Pendekatan ini mencerminkan perubahan dalam sifat paradigma manajemen kekayaan bangsa, dari nilai tambah yang sebelumnya pasif dan tinggi terhadap perekonomian nasional. Selanjutnya, Rosan menekankan bahwa dan direncanakan sebagai instrumen transformasi ekonomi nasional.
Mandat utama dan berkontribusi badan bisnis milik negara (BUMN) untuk menciptakan sinergi yang lebih kuat dari upaya negara itu. Indonesia memiliki lebih dari seribu entitas gelandangan dan anak-anaknya yang bergerak di berbagai sektor strategis, mulai dari keuangan, energi, infrastruktur, hingga telekomunikasi. Skala besar ini merupakan potensi luar biasa yang belum sepenuhnya dimaksimalkan karena fragmentasi manajemen dan kurangnya koordinasi lintas sektor.
Melalui konsolidasi, dan diharapkan untuk memperbesar nilai aset negara dan memastikan bahwa setiap keputusan investasi dilakukan berorientasi pada integrasi, profesional, dan jangka panjang. Dengan prinsip-prinsip kencan yang lebih terpusat dan lebih terpusat, dan potensi prinsip rasa hormat, dan potensi untuk menjadi perpanjangan utama dalam meningkatkan daya saing BUMN, baik di pasar domestik maupun global.
Ini serta memperkuat peran BUMN sebagai agen pembangunan berkelanjutan. Salah satu aspek penting dari highlight Rosan adalah perubahan mekanisme manajemen dividen BUMN. Dividen sebelumnya yang disetor langsung ke Kementerian Keuangan sekarang dapat dikelola lebih makmur dengan dan mengendalikan.
Dana tersebut kemudian ditemukan kembali untuk menjaga keberlanjutan kinerja BUMN serta mendukung masa depan ekonomi nasional. Pendekatan ini mencerminkan visi jangka panjang pemerintah dalam mengelola keuangan negara, di mana dividen tidak hanya dilihat sebagai sumber penerimaan fiskal, tetapi juga sebagai modal strategis untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Peran dan semakin penting dalam mendorong kontribusi investasi pada pertumbuhan ekonomi nasional yang saat ini dalam 28-29 persen. Dengan manajemen investasi yang lebih bertarget dan terintegrasi, dan diharapkan untuk meningkatkan porsi dampak signifikan pada penciptaan pembuatan bidang kerja, peningkatan produktivitas, dan transformasi struktural ekonomi. Fokus pada sektor-sektor strategis, termasuk sektor bersih dan perkembangan, menunjukkan bahwa dan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi saja, tetapi juga sejalan dengan komitmen Indonesia untuk pengembangan berkelanjutan dan menargetkan emisi nol nol.
Dari sudut pandang analitis, kehadiran juga memiliki nilai strategis dalam mengembangkan kepercayaan investor global. Institut Senior Institute untuk Pengembangan Ekonomi dan Keuangan (INDEF), Dradjad Wibowo, mengevaluasi bahwa momentum kehadiran dan momentum Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, sangat penting untuk menjelaskan arah ekonomi Indonesia.
Kebijakan kepada dunia. Menurutnya, kemampuan dan kemampuan untuk mengelola ibukota negara dalam skala besar adalah faktor kunci dalam mengembangkan kepercayaan investor global untuk menanamkan ibukotanya di Indonesia. Dradjad melihat WEF 2026 sebagai tahap strategis untuk dan untuk menjelaskan kepada para pemimpin dunia dan inovator teknologi tentang iklim bisnis yang ingin dibangun Indonesia melalui SWF nasional ini.
Kejelasan visi, transparansi TATA, dan konsistensi kebijakan akan menjadi faktor penentu dalam menarik investasi global. Dengan komunikasi yang akurat dan terukur, dan potensi untuk menumbuhkan kepercayaan yang memperkuat persepsi positif terhadap perekonomian Indonesia.
Tampilan optimis juga disajikan oleh Menteri Perdagangan periode 2011-2014, Gita Wirjawan. Ini mengevaluasi keberadaan Indonesia di forum global seperti WEF berpotensi menjadi magnet bagi aktor ekonomi dan bisnis dunia.
Posisi menjadi sebagai manajer investasi nasional dengan mandat strategis dan skala manajemen besar memberikan daya tarik sendiri bagi investor global yang ingin memahami peluang ekonomi Indonesia secara langsung. Menurut Gita, forum internasional juga dapat digunakan sebagai ruang yang mengembangkan jaringan ekonomi global yang saling menguntungkan.
Keberadaan Negara sebagai Alocator Modal Nasional memberikan sinyal kuat bahwa Indonesia diselesaikan bekerja sama dengan berbagai lembaga dan aktor ekonomi internasional. Ini akan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global dan membentuk persepsi bahwa Indonesia dapat menjadi mitra strategis jangka panjang.
Dengan dukungan kebijakan yang kuat, kepemimpinan profesional, dan visi jangka panjang yang jelas, dan memiliki peluang besar untuk menjadi pilar utama transformasi ekonomi Indonesia dan mempercepat realisasi pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan. (Penulis adalah pengamat kebijakan ekonomi- Marliana Tarigan)
Post Views: 43