Ketum KOWANI Minta Pemprov Papua Barat Dorong UKM Perempuan Pedesaan

oleh -110 Dilihat

MANOKWARI, PapuaStar.com – Setelah melakukan kunjungan ke beberapa lokasi, Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd, menyambangi pulau peradaban orang asli Papua yakni pulau Mansinam.

Dipulau Mansinam, beberapa objek yang menjadi wisata religi kunjunginya berupa sumur tua. Sebelumnya Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd, bersama Staf Khusus Presiden Bidang Disabilitas dan rombongan secara simbolis melepaskan 140 ekor tukik di pantai Mansinam.

Pameran hasil karya oleh masyarakat dipulau Mansinam juga tidak luput dari kunjungan para delegasi W20. Sejumlah aneka kerajinan tangan dan makanan khas Papua disajikan.

Melihat dan berbelanja hasil kerajinan kaum perempuan dipulau Mansinam, akhirnya menggugah hati Ketua Umum KOWANI. Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd, mengapresiasi hasil karya mama-mama Papua di pulau Mansinam itu. Dirinya mendorong adanya peningkatan kualitas karya yang dimiliki oleh kaum perempuan di Papua.

“Sangat luar biasa kreativitas mama-mama Papua yang merajut berbagai kerajinan tangan dan dipadu sedemikian rupa baik itu warna maupun kreasinya. Kami harapkan lebih dapat ditingkatkan dari sisi kualitas dan pemasarannya,” ungkap Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd, Kamis (9/6/2022).

Tidak hanya dari sisi kualitas, tentu untuk meningkatkan ekonomi perempuan pedesaan agar tidak tergantung pada pendapatan suami, pemerintah daerah harus dapat memfasilitasi hasil kerajinan tersebut agar menembus hingga pasar internasional.

“Karena ketika kami menanyakan mereka bisa memproduksi tetapi mereka belum dapat memberikan harga yang pasti. Jadi ini harusnya didorong supaya tidak sampai pad level lokal saja, melainkan bisa dipasarkan dan bahkan di ekspor,” terang Ketua Umum KOWANI.

Sementara itu standarisasi harga juga menjadi penentu penguatan ekonomi perempuan pedesaan melalui hasil-hasil kerajinan tangan. Olehnya demikian, pemerintah daerah harus berkomitmen melakukan pelatihan dan selanjutnya untuk diberdayakan.

“Saya melihat mereka belum siap karena mereka belum bisa membuat suatu standarisasi harga. Tentunya kami harapkan dari pihak pemerintah daerah lebih dapat memberdayakan dalam hal pelatihan untuk kualitas, pemasaran, standarisasi harga dan cara membuat kemasannya,” tutupnya.(PS-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *