Konjungtivas Patogenesis, Klasifikasi dan Penatalaksanaan Wismoyo Indra Zoelman.MD RS.Laut Marine Ewa Pangalila

oleh -102 Dilihat
Oplus_16908288

SURABAYA, PapuaStar.com-Konjungtivitis, atau biasa disebut mata merah, merupakan inflamasi pada konjungtiva yang umum ditemukan dalam praktik klinis. Kondisi ini disebabkan oleh berbagai etiologi, termasuk infeksi virus, bakteri, alergi, iritasi, dan penyebab non-infeksi lainnya.

Gejala utama meliputi kemerahan pada mata, gatal, sekret (lendir), fotofobia (mata tidak nyaman saat melihat sinar matahari atau lampu), dan rasa tidak nyaman. Tujuan karya tulis ilmiah ini adalah untuk mengkaji patogenesis, klasifikasi, diagnosis banding, dan penatalaksanaan terkini konjungtivitis.

Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan diagnosis yang tepat sangat penting untuk menentukan terapi yang spesifik, mengingat masing-masing etiologi memerlukan penanganan yang berbeda. Konjungtivitis virus bersifat self-limiting, sedangkan konjungtivitis bakteri memerlukan terapi antibiotik rasional untuk mencegah resistensi.

Konjungtivitis alergi memerlukan penghindaran alergen dan terapi antiinflamasi. Peningkatan kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan mengenai diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat dapat mengurangi morbiditas, penularan, dan beban ekonomi.

Konjungtivitis, atau yang umum dikenal sebagai “mata merah,” adalah salah satu masalah oftalmologi yang paling umum di masyarakat. Prevalensinya tinggi di semua kelompok usia, dengan perkiraan insidensi global mencapai jutaan kasus per tahun.

Kondisi ini merupakan penyebab utama kunjungan pasien ke pelayanan kesehatan primer dan unit gawat darurat. Meskipun sering dianggap ringan, konjungtivitis dapat menimbulkan ketidaknyamanan yang signifikan, menurunkan produktivitas, dan dalam kasus tertentu menyebabkan komplikasi serius seperti keratitis (struktur mata yang lebih dalam) atau bahkan gangguan penglihatan.

Dalam konteks kesehatan masyarakat, konjungtivitis infektif (terutama virus) sangat mudah menular dan dapat menyebabkan wabah di komunitas, sekolah, dan tempat kerja.

Riset terkini menunjukkan kompleksitas dalam diagnosis banding konjungtivitis karena gejala yang tumpang tindih antara berbagai etiologi. Penatalaksanaan yang tidak tepat, terutama penggunaan antibiotik yang tidak rasional pada konjungtivitis virus, telah menjadi masalah global yang memperburuk resistensi antimikroba. Oleh karena itu, pemahaman mendalam berdasarkan bukti ilmiah mutakhir sangat diperlukan bagi praktisi kesehatan.

Karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk menyajikan tinjauan komprehensif mengenai konjungtivitis, dengan fokus pada perkembangan terbaru dalam patogenesis, klasifikasi, dan strategi penatalaksanaan.

Konjungtiva adalah membran mukosa tipis dan transparan yang melapisi permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris) dan permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis). Fungsi utamanya meliputi perlindungan mekanis dan imunologis, produksi komponen air mata (melalui sel Goblet dan kelenjar aksesori), serta pemeliharaan permukaan okular yang sehat. Vaskularisasi yang kaya pada konjungtiva bertanggung jawab atas tanda khas kemerahan saat terjadi inflamasi.

Klasifikasi dan Etiologi Konjungtivitis Berdasarkan etiologi, konjungtivitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Infektif

1). Viral: Adenovirus (paling umum, 65-90% kasus), Herpes Simplex Virus (HSV), Varicella Zoster Virus (VZV), Enterovirus, dan terkait COVID-19 (SARS-CoV-2).

2). Bakteri: Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Moraxella catarrhalis. Kasus hiperakut yang parah dapat disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae.

3). Jamur dan Parasit: Jarang, lebih sering pada pasien immunocompromised atau dengan riwayat trauma.

4). Konjungtivitis Alergi Musiman (SAC/Seasonal) / Menahun (PAC/Parenial).

5). Keratokonjungtivitis Vernal (VKC).

6). Keratokonjungtivitis Atopik (AKC).

7). Konjungtivitis Papiler Raksasa (GPC).

8). Bahan iritatif lain seperti: paparan asap, debu, klorin, atau cedera kimia.

9). Sindrom mata kering (Dry eye) yang berat, konjungtivitis akibat obat, dan penyakit autoimun.

Patogenesis

Patogenesis bervariasi sesuai etiologi:

a). Viral: Adenovirus masuk melalui epitel konjungtiva, bereplikasi, dan memicu respons imun seluler dengan pelepasan sitokin pro-inflamasi (IL-6, IL-8, TNF-α), menyebabkan vasodilatasi, edema, dan infiltrasi sel inflamasi.

b). Bakteri: Patogen melekat dan menginvasi epitel, menghasilkan toksin dan enzim yang merusak jaringan, memicu respons neutrofil dominan dengan sekret purulen.

c). Alergi: Reaksi hipersensitivitas tipe I (IgE-mediated) dan tipe IV (cell-mediated). Paparan alergen mengaktifkan sel mast dengan pelepasan histamin, leukotrien, dan kemokin. Hal tersebut menyebabkan rasa gatal, vasodilatasi, dan edema.

Manifestasi Klinis dan Diagnosis Banding

Diagnosis seringkali ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang cermat.

a). Konjungtivitis Viral: Awitan akut, mata merah, sekret aqueous, folikel konjungtiva, limfadenopati preaurikular, sering disertai gejala sistemik seperti demam dan faringitis (pada konjungtivitis faringokonjungtival), sifatnya sangat menular.6

b). Konjungtivitis Bakteri: Sekret mukopurulen hingga purulen, kelopak mata saling menempel saat bangun tidur, kemerahan difus, papila konjungtiva. Pseudomonas atau N. gonorrhoeae, dapat progresif cepat dan destruktif

c). Konjungtivitis Alergi: Gatal dominan, lakrimasi, edema palpebra, papila konjungtiva (pada VKC papila raksasa “cobblestone”), sering bilateral dan berhubungan dengan riwayat atopi.

Pemeriksaan penunjang seperti kultur dan PCR dapat dipertimbangkan pada kasus berat, atipikal, atau tidak responsif terhadap terapi awal.

Penatalaksanaan

a. Konjungtivitis Viral
Terapi bersifat suportif karena self-limiting (5-14 hari) yaitu dengan kompres dingin, air mata buatan, dan menjaga kebersihan untuk mencegah penularan (cuci tangan dan hindari kontak). Topikal antihistamin/vasokonstriktor dapat mengurangi gejala. Antiviral topikal (seperti gansiklovir) hanya untuk konjungtivitis akibat HSV (Herpes simpleks virus). Steroid topikal harus dihindari pada fase akut kecuali pada kasus dengan keterlibatan kornea yang signifikan dan dibawah pengawasan ketat dokter spesialis mata, karena dapat memperburuk infeksi adenovirus.

b. Konjungtivitis Bakteri

Terapi utama adalah antibiotik topikal. Tren terkini merekomendasikan terapi empirik spektrum sempit berdasarkan pola kuman local. Pilihan pertama: Fluoroquinolon generasi keempat (besifloxacin, moxifloxacin) atau aminoglikosida/ polimiksin B kombinasi.

Pedoman menekankan durasi terapi yang lebih pendek (5-7 hari) untuk mengurangi resistensi dan efek samping. Hindari penggunaan profilaksis atau irasional. Sekitar 60% kasus konjungtivitis bakteri ringan dapat sembuh spontan, sehingga observasi tanpa antibiotik pada awalnya dapat dipertimbangkan pada pasien imunokompeten.

c. Konjungtivitis Alergi

Strategi tatalaksana meliputi:

1). Penghindaran alergen dan penggunaan kompres dingin.

2). Farmakoterapi: Antihistamin Topikal (seperti olopatadine, alcaftadine): menghambat reseptor H1 dan stabilisasi sel mast.

3). Stabilisator Sel Mast (asam kromoglikat, nedokromil).

4). Agen Multimodal (antihistamin + stabilisator sel mast) adalah pilihan utama karena efektivitas tinggi.

5). Steroid Topikal (loteprednol, fluorometolon): untuk kasus berat atau akut, dengan durasi terbatas untuk menghindari glaukoma/katarak.

6). Immunomodulator Topikal (cyclosporine A, tacrolimus): untuk VKC/AKC kronis berat.

Tantangan Kontemporer :

a). Resistensi Antibiotik: Laporan terbaru menunjukkan peningkatan resistensi S. aureus dan H. influenzae terhadap makrolida dan aminopenicillin.

b). Konjungtivitis dan COVID-19: SARS-CoV-2 dapat diisolasi dari konjungtiva dan menyebabkan konjungtivitis, meskipun insidensinya rendah (<5%). Konjungtivitis bisa menjadi gejala awal atau satu-satunya gejala.

c). Diagnosis berbasis teknologi: Pengembangan point-of-care testing dan artificial intelligence (AI) untuk analisis gambar konjungtiva dapat meningkatkan akurasi diagnosis di masa depan.

Kesimpulan : Konjungtivitis merupakan kondisi multifaktorial dengan pendekatan penatalaksanaan yang berbeda berdasarkan etiologinya. Diagnosis klinis yang akurat sangat penting untuk menghindari terapi yang tidak tepat dan risiko resistensi antibiotik. Perkembangan terkini dalam farmakoterapi, khususnya agen multimodal untuk alergi dan antibiotik spektrum sempit, menawarkan pilihan terapi yang lebih efektif dan aman. Pendidikan kesehatan masyarakat mengenai higiene dan penularan, serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan primer dalam diagnosis banding mata merah, merupakan langkah krusial untuk mengurangi beban penyakit.

Saran:

a. Bagi Klinisi: Tingkatkan ketrampilan diagnosis banding berdasarkan gejala kunci dan pertimbangkan pendekatan “watchful waiting” pada kasus bakteri ringan sebelum meresepkan antibiotik.

b. Bagi Peneliti: Diperlukan riset lebih lanjut mengenai pola resistensi bakteri konjungtiva di berbagai wilayah, serta pengembangan alat diagnostik cepat yang terjangkau.

c.Bagi Masyarakat: Meningkatkan kesadaran akan pentingnya tidak berbagi alat pribadi (seperti handuk dan sapu tangan), cuci tangan rutin, dan konsultasi ke fasilitas kesehatan jika gejala berat atau berlarut.

(Kaur IGD Rumkitalmar Ewa Pangalila Surabaya, Kapten Laut (K) dr. Wismoyo Indra Zoelman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *