MANOKWARI, PapuaStar.com— Lonjakan aktivitas masyarakat selama cuti bersama Maret 2026 yang beririsan dengan perayaan Nyepi dan Idulfitri 1447 Hijriah tidak hanya menghadirkan euforia, tetapi juga tantangan serius bagi stabilitas sosial. Di tengah dinamika itu, suara mahasiswa muncul sebagai pengingat: harmoni tidak boleh dibiarkan berjalan autopilot.
Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Manokwari, Herdin, menilai momentum ini sebagai “uji kedewasaan sosial” bagi masyarakat yang hidup dalam keberagaman.
Baginya, Manokwari bukan sekadar kota, melainkan ruang hidup bersama yang dibangun dari perbedaan—dan itu harus dijaga dengan kesadaran kolektif.
“Keamanan bukan hanya urusan aparat. Ini soal tanggung jawab sosial kita semua,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).
Dari sudut pandang mahasiswa, kata Herdin, ancaman terhadap kamtibmas saat libur panjang sering kali bukan datang dari konflik besar, melainkan dari hal-hal kecil yang diremehkan—misinformasi, provokasi di media sosial, hingga sikap abai terhadap lingkungan sekitar.
Mahasiswa melihat realitas ini dengan kacamata kritis: derasnya arus informasi digital bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi mempercepat konektivitas, di sisi lain membuka ruang bagi hoaks dan narasi yang memecah belah.
“Generasi muda harus jadi filter, bukan sekadar follower. Jangan sampai kita ikut menyebarkan sesuatu yang justru merusak persatuan,” tegasnya.
Herdin juga menyoroti bahwa perayaan keagamaan seharusnya menjadi momentum memperkuat solidaritas sosial. Namun, tanpa kesadaran bersama, momen sakral ini bisa kehilangan maknanya dan justru menyisakan potensi gesekan.
Dalam konteks itu, mahasiswa memposisikan diri bukan hanya sebagai pengamat, tetapi juga agen perubahan. Edukasi, literasi digital, dan gerakan sosial dinilai menjadi peran strategis yang bisa diambil untuk menjaga harmoni di tengah masyarakat.
Ajakan sederhana pun disampaikan: saling peduli, saling mengingatkan, dan tidak mudah terprovokasi. Hal-hal kecil yang kerap dianggap sepele justru menjadi fondasi kuat bagi terciptanya rasa aman.
“Keamanan sejati itu lahir dari kepedulian. Kalau semua orang merasa punya tanggung jawab, maka potensi konflik bisa ditekan sejak awal,” tutup Herdin.
Di tengah gegap gempita libur dan perayaan, pesan mahasiswa ini terdengar jernih: harmoni bukan warisan yang bisa dinikmati begitu saja—ia adalah kerja bersama yang harus terus dirawat. Sedikit abai bisa membuka celah, tapi sedikit peduli bisa menjadi benteng yang tak terlihat namun kokoh.
Post Views: 43