Bank Indonesia Papua Barat, Membina 31 UMKM Transaksi Menggunakan QRIS

oleh -115 Dilihat

MANOKWARI, PapuaStar.com – Bank Indonesia Perwakilan Papua Barat terus membina dan meningkatkan kapasitas Usaha Micro Kecil dan Menegah (UMKM) dalam pencatatan transaksi keuangan dengan menggunakan Quick Respond Indonesia Standar (QRIS), pelatihan digelar selama dua hari, 27-28 Mei 2021, di Kantor Tempat pelatihan UMKM Bank Indonesia Papua Barat – Manokwari, Kamis 27 Mei 2021.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Papua Barat, Rut W Eka Trisilowati mengatakan, departemen di Bank Indonesia yang khusus mengurus UMKM hingga kini masih berjalan. Kantor Bank Indonesia di Jakarta ada 100-200 orang mengelola UMKM di seluruh provinsi termasuk UMKM Papua Barat. Bank Indonesia hadir di kabupaten, kota maupun di ibukota provinsi di Indonesia ada 46 Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia.

Dikatakan, Bank Indonesia tidak kerja sendiri, tetapi bersinergi dengan Kementrian UMKM Pusat, juga dengan Menteri Perdagangan, Kementerian Kominfo, semua yang terkait dengan infrastruktur UMKM bersinergi dan berkolaborasi dari pusat sampai ke bawah termasuk dengan lembaga Perbankan,” tuturnya dalam sambutan.

‘’Secara statistik khususnya di Asia Tenggara perbankan masih ambil peranan penting, 90% transaksi melalui perbankan, walaupun dengan berjalannya waktu timbul teknologi lainnya, timbul (munculnya, red) jasa-jasa transfer keuangan, terutama pekerja migran kita yang kalau memakai perbankan kadang satu minggu libur, sementara Western Union siap transfer dari lagi di dalam mobile phone berjalannya waktu semua akan lari ke teknologin

‘’Untuk itu UMKM penting untuk belajar, kenapa Bank Indonesia peduli dengan teknologinya, infrastruktur dan ada sistem pembayaran yang diatur dalam QRIS, harus melihat bahwa filosofi dari bank sentral adalah pembayaran,’’ ucap Rut.

Jadi kalau bapak ibu memiliki rekening di perbankan semua itu terjamin Bank Indonesia memfasilitasi teknologinya. Berjalannya waktu dan bahkan sebelum pandemi COVID – 19 tahun 2019 Bank Indonesia meresmikan yang namanya QRIS yang hari ini kita mau belajar.

Ia menjelaskan, bahwa QRIS untuk menyamakan semua satu standar transaksi, kalau punya rekening di Tokopedia, bukalapak di Shoppi itu satu standar, karena kedepan market-market raksasa dari seluruh dunia akan masuk.

‘’Kita tidak mau kehilangan momen, pada saat hanya ada dua jenis kartu kredit yang diakui seluruh dunia visa dan master. Mereka mengambil segala keuntungan mentransaksi, bahkan perilaku konsumen sangat penting di era digital,’’ kata Rut.

Rut menambahkan bahwa Bank Indonesia memiliki tanggungjawab moral untuk bisa menaungi UMKM, karena 60% kontribusi UMKM terhadap pertumbuhan nasional sangat signifikan.

‘’Kita mau UMKM di Papua Barat tumbuh dan berkembang tanpa harus bergantung kepada institusi lain, tidak tergantung kepada CSR, tidak tergantung pada dana hibah, tetapi UMK bisa mengandalkan profit yang mereka ada untuk UMKM berkembang , bahkan bisa membina sumber daya manusia lainnya di Papua Barat kedepannya,’’ harap Rut.

‘’Dari Bank Indonesia melihat perlu mengambil UMKM binaan dan mitra yang ada di ruangan ini pada hari ini, itu salah satu untuk langkah ke depan kita untuk melepaskan UMKM setelah kita dampingi untuk mandiri,.

Rut mengatakan, bahwa kemandirian UMKM itu dilihat dari bagaimana mengolah bisnisnya, mengelolah laporan keuangannya, memanfaatkan teknologi yang ada disekelilingnya. Dan juga aksesnya ke finansial, ke perbankan.

‘’Karena perlu pahami, bahwa tidak semua institusi terus-terusan membantu secara free, secara hibah, ada saatnya kita menyatakan ini cukup, Saya sudah bisa berjalan sendiri, dan Saya mampu menciptakan sumber daya manusian, bahkan saya mampu memperluas akses pemasaran, akses pembiayaan, seperti itu tujuan pelatihan ini,’’ terang Rut.

Kepala Bank Indonesi Papua Barat menekankan, jika Bank Indonesia, perbankan atau kepala dinas tampil sebagai pembicara bukan berati mereka lebih pandai, bukan lebih memamahami dari peserta UMKM, tetapi itu dari sisi regulator Bank Indonesia mau mendengar dari pelaku UMKM.

‘’Kira-kira apa hambatan UMKM di tahun 2001 ke depan, kita harus punya komitmen, sekaligus ini sebagai ajang Bank Indonesia menyusun modul, kira-kira apa yang pelaku UMKM perlukan kedepan. Saya harapkan pelatihan memberikan manfaat, jadi kita aktif dan sering hambatannya apa saja,’’ ucap Rut.

Sebagai regulatoring Bank Indonesia melihat sisi yang berbeda, atau dinas-dinas, perbankan melihat sisi berbeda lagi. Pelaku UMKM di lapangan mengalami kehidupan rill berkapasitas menyusun proposal ke perbankan, atau menyusun laporan keuangan secara singkat, apakah ada kendala dalam menerapkan sistem pembayaran menggunakan QRIS misalnya.

‘’Jadi kita akan buat modul ke depan untuk bisa diselesaikan pada tahun 2021, jadi bapak ibu tidak perlu takut selama Bank Indonesia berdiri, bahkan perubahan dari indepedensi UMKM tetap punya satu departemen yang khusus mengelola kegiatan UMKM di seluruh Indonesia,’’ ujarnya. (PS-08)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *