Tak Ingin Ada Kekerasan Terhadap Anak, Disdikbud Manokwari Bidang SD Aktifkan Belajar Tatap Muka

oleh -148 Dilihat

MANOKWARI, PapuaStar.com – Proses belajar mengajar secara online akibat Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan, dinilai sangat memberi ruang terjadinya kekerasan terhadap anak. Sebab kebutuhan yang diperlukan sejak pembelajaran online diterapkan, berdampak pada ekonomi keluarga.

Melihat kondisi tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Manokwari pada bidang Sekolah Dasar (SD) telah mengaktifkan kembali proses pembelajaran tatap muka, walau terpaksa dibagi dalam beberapa sesi.

Kepala Bidang SD, Philipus Pattikayhatu, SH menjelaskan bahwa sejak bulan Februari tahun 2022, pihaknya sudah mengaktifkan kembali pembelajaran tatap muka dengan tetap menerapkan protokol kesehatan di setiap sekolah.

Dalam perjalanannya nanti, dirinya berjanji akan melakukan evaluasi agar proses belajar mengajar dapat dilaksanakan dengan normal.

“Kalau tingkat SD, kemarin karena varian baru Covid-19 itu memanas lagi, maka kita kembali menerapkan pembelajaran secara online selama 14 hari. Namun kita sudah kembali arahkan pihak sekolah untuk aktifkan pembelajaran tatap muka 50 persen, sambil kita evaluasi setelah pelaksanaan ujian dan tes semester, sehingga kemungkinan besar bisa tatap muka 100 persen, tapi tetap mengacu pada protokol kesehatan,” ungkap Philipus, Rabu (16/3/2022).

Dengan kebijakan yang diambil ini, Philipus berpesan kepada seluruh kepala sekolah khususnya tingkat Sekolah Dasar, agar menggandeng Stakholder dan mensosialisasikan kebijakan tersebut kepada orang tua atau wali siswa. Agar keinginan anak untuk belajar secara normal itu mendapat persetujuan.

“Kebijakan dari kami sudah disampaikan kepada pihak sekolah untuk menggandeng Stakholder agar menyepakati penerapan pembelajaran secara tatap muka,” sambungnya.

Sebab dari pantauan selama proses belajar mengajar secara online, secara tidak langsung sangat membuka ruang terjadinya tindakan kekerasan terhadap anak. Karena kebutuhan untuk mendukung belajar online dirasa sangat membebani orang tua atau wali siswa.

Oleh sebab itu, kondisi ini menjadi tolak ukur bagi pihak Dinas Pendidikan khususnya bidang Sekolah Dasar untuk mengambil kebijakan mengaktifkan pembelajaran secara tatap muka di sekolah.

“Pembelajaran online saya menilai sangat memberatkan orang tua, sehingga dapat memberi ruang terjadinya kekerasan terhadap anak,” tandas pria berdarah Ambon itu.

Agar tidak menyalahi aturan di masa pandemi ini, Philipus berpesan kepada seluruh kepala sekolah agar dapat mensukseskan program vaksinasi, guna kelancaran proses belajar mengajar secara normal.

“Sekolah yang ada di dalam kota saya himbau agar sukseskan program vaksinasi. Sehingga proses belajar mengajar dapat kembali normal,” tutupnya.(PS-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *