Ketika Teknologi Membuka Jalan Baru Anak Istimewa, Guru SLB Didorong Penggerak Transformasi Digital

oleh -103 Dilihat

BOGOR, PapuaStar.com— Transformasi pendidikan inklusif tidak hanya berbicara tentang menyediakan akses belajar bagi semua anak, tetapi juga memastikan para pendidik memiliki kemampuan untuk menjawab tantangan zaman. Melalui penguatan kompetensi teknologi digital, guru Sekolah Luar Biasa (SLB) kini didorong menjadi penggerak perubahan agar peserta didik berkebutuhan khusus semakin mandiri dan siap menghadapi masa depan.

Upaya tersebut diwujudkan melalui Program Peningkatan Kompetensi Guru SLB Bidang Keterampilan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang diselenggarakan Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (PMPK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di Hotel Rizen Padjajaran, Bogor, pada 14–17 Juli 2026.

Program ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat kapasitas guru pendidikan khusus, terutama dalam memanfaatkan teknologi sebagai sarana pembelajaran sekaligus pengembangan keterampilan peserta didik berkebutuhan khusus.

Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar, Rita Pranawati, mengatakan keberadaan guru SLB memiliki peran penting dalam membuka ruang tumbuh bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Menurutnya, menjadi guru SLB bukan sekadar menjalankan profesi, tetapi merupakan bentuk pengabdian yang membutuhkan kepedulian, kesabaran, dan komitmen yang besar.

“Tidak banyak orang yang memilih mengabdikan diri di sekolah luar biasa. Karena itu, dedikasi para guru SLB merupakan sesuatu yang patut dihargai,” ujar Rita.

Ia berharap pelatihan tersebut tidak berhenti pada peningkatan kemampuan teknis, tetapi mampu melahirkan guru yang menjadi penggerak inovasi pembelajaran di sekolah masing-masing.

“Guru harus mampu menjadi agen perubahan agar lahir berbagai praktik baik yang semakin berpihak kepada anak berkebutuhan khusus,” katanya.

Lalubi, Ruang Apresiasi Karya Anak Berkebutuhan Khusus Selain meningkatkan kompetensi guru di bidang TIK, program ini juga menjadi momentum memperkenalkan Lalubi (Lapak Luar Biasa), sebuah platform digital yang dirancang sebagai ruang apresiasi terhadap karya peserta didik pendidikan khusus dari berbagai daerah di Indonesia.

Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Arif Jamali, mengatakan peningkatan kompetensi guru tidak hanya diarahkan pada penguasaan teknologi, tetapi juga membangun ekosistem pembelajaran yang memberikan ruang lebih luas bagi peserta didik berkebutuhan khusus untuk menunjukkan kemampuan dan kreativitasnya.

Menurut Arif, selama ini banyak karya peserta didik berkebutuhan khusus yang hanya dikenal di lingkungan sekolah masing-masing. Melalui Lalubi, karya tersebut diharapkan memperoleh ruang apresiasi yang lebih luas dari masyarakat.

“Tujuan utama platform ini bukan hanya menjual produk, tetapi memberikan pengakuan bahwa anak berkebutuhan khusus mampu menghasilkan karya yang berkualitas dan bernilai,” ujarnya.

Ia mengatakan Lalubi akan dikembangkan sebagai etalase nasional yang memperlihatkan potensi peserta didik berkebutuhan khusus dari berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, setiap karya yang ditampilkan melalui platform tersebut memiliki makna lebih besar, yakni membangun kepercayaan diri anak agar semakin yakin terhadap kemampuan yang dimilikinya.

Pengembangan kompetensi guru dan apresiasi karya peserta didik juga diperkuat melalui kolaborasi dengan berbagai mitra. Sebelumnya, Direktorat Guru PMPK bekerja sama dengan SEAMEO BIOTROP, serta menghadirkan narasumber dari Universitas Negeri Malang, Universitas Gunadarma, dan guru-guru SLB berprestasi untuk berbagi praktik baik dalam pemanfaatan teknologi digital pada pembelajaran pendidikan khusus.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan khusus yang tidak hanya berorientasi pada pembelajaran di kelas, tetapi juga pengembangan keterampilan vokasional yang mendukung kemandirian peserta didik berkebutuhan khusus.

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pembelajaran, Kesejahteraan, dan Penghargaan Direktorat Guru PMPK, Ahmad Budidarma, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memastikan pemerataan kesempatan peningkatan kompetensi guru pendidikan khusus di seluruh Indonesia.

Antusiasme guru terhadap program tersebut cukup tinggi. Sebanyak 855 guru SLB dari berbagai daerah mendaftarkan diri. Setelah melalui proses verifikasi administrasi, 812 guru dinyatakan memenuhi syarat mengikuti pembelajaran daring. Berdasarkan hasil evaluasi akademik, keterwakilan wilayah, dan asal satuan pendidikan, 30 guru terbaik kemudian dipilih mengikuti pelatihan praktik secara langsung di Bogor.

Menurut Ahmad, keberagaman peserta menjadi salah satu kekuatan program ini. Tidak hanya guru dari wilayah perkotaan, peserta juga berasal dari daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), termasuk Pulau Morotai, Maluku Utara.

“Kami ingin memastikan peningkatan kompetensi guru pendidikan khusus tidak hanya dirasakan oleh guru di kota besar. Guru dari wilayah perbatasan juga harus mendapatkan kesempatan yang sama,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberagaman latar belakang peserta membuka ruang belajar bersama melalui pertukaran pengalaman dan praktik baik antarguru dari berbagai daerah.

Ahmad juga menuturkan bahwa pelatihan ini menjadi momentum memperkenalkan Lalubi sebagai media apresiasi nasional terhadap karya peserta didik berkebutuhan khusus.

“Kami berharap semakin banyak karya anak-anak berkebutuhan khusus yang dikenal masyarakat. Setiap apresiasi terhadap karya mereka merupakan bentuk penghormatan terhadap kreativitas, kemampuan, dan potensi yang dimiliki,” katanya.

Ia juga menyampaikan bahwa pelatihan ini menghadirkan guru penyandang disabilitas sebagai peserta. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk terus belajar, berinovasi, dan menghasilkan karya yang bernilai.

Melalui penguatan kompetensi guru, pemanfaatan teknologi digital, serta pengembangan ruang apresiasi seperti Lalubi, Kemendikdasmen berharap pendidikan khusus di Indonesia semakin inklusif, adaptif, dan mampu memberikan ruang yang lebih luas bagi peserta didik berkebutuhan khusus untuk berkembang.

Program yang berlangsung hingga 17 Juli 2026 ini menjadi salah satu langkah strategis untuk memastikan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus tidak hanya memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas, tetapi juga kesempatan yang setara untuk menunjukkan kemampuan, kreativitas, dan kontribusinya bagi bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *